Wednesday, October 12, 2016

Bagaimana merekrut orang yang tepat untuk bisnismu.

Hari ini, dalam rangka banyak belajar, saya kepengen save tulisan yang barusan saya baca di wesite Oriflame.
Ini bagus, untuk ngebantu fokus.

Lima tahun yang lalu, Anna Stenberg mendirikan Women Executive Search (WES); firma headhunter dengan cara kerja lebih dari sekedar jaringan perekrutan tradisional untuk memastikan perempuan dengan karakter kepemimpinan yang kuat masuk dalam proses perekrutan. Di Swedia, dimana 80% dari kandidat headhunter adalah laki-laki, Anna dan timnya telah mempekerjakan lebih dari 200 pemimpin perempuan. 

Bagaimana caranya?

1. Buat deskripsi pekerjaan "Segalanya diawali dengan analisis bisnis yang baik. Artinya, kenali betul-betul Organisasi dan posisi yang Anda tawarkan. Tanyakan pada diri Anda, kompetensi dan kepribadian macam apa yang akan sukses di sini?  Selanjutnya Anda siap menentukan deskripsi profile sesuai yang Anda butuhkan - dalam hal ini di Oriflame, kita membuat Job Description yang lugas, mislanya Anda mungkin ingin mencari perempuan yang menunjukkan semangat dan minat pada kecantikan secara Online."
2.Jadilah Detektif "Setelah membuat deskripsi pekerjaan, proses pencarian dimulai. Ini sedikit mirip seperti seorang detektif. Di WES, selain melihat apa yang ada dalam jaringan kami , kami juga melihat perusahaan dan perempuan lain yang memiliki potensi, semangat dan pengalaman yang dibutuhkan untuk posisi yang sedang kami rekrut. Kami membuat daftar panjang kandidat potensial dan kemudian mengeditnya hingga daftar akhir untuk kami tidak lanjuti melalui telepon dan  wawancara tatap muka
 3. Cari secara Online, tindak lanjuti dengan tatap muka "Sebagaimana semangat untuk kecantikan adalah bagian dari deskripsi pekerjaan para Konsultan Oriflame, media sosial adalah cara yang sangat efisien dan murah untuk menemukan orang yang mungkin ingin bergabung dengan bisnis Anda. Tetapi sekali Anda telah mengidentifikasi calon potensial Anda melalui Facebook atau Linkedin, membuat pastikan Anda bertemu dengan mereka untuk memahami apa yang ada di luar kesan pertama. "
4. Pilih pekerja terbaik, bukan teman terbaik"Ketika Anda merekrut , Anda sering bertemu seseorang yang identik dengan Anda dan benar-benar Anda sukai. Karena Anda pikir mereka menyenangkan, Anda lupa tentang deskripsi pekerjaan dan ingin merekrut mereka -.Sebaiknya jangan. Terkadang, memilih seseorang dengan keterampilan/karakter yang berbeda dengan Anda akan menciptakan dinamika positif. Konsisten dengan deskripsi pekerjaan yang Anda buat dan Anda akan dapat fokus pada orang terbaik untuk posisi itu."
"Media sosial adalah cara yang sangat efisien dan murah untuk menemukan orang yang mungkin ingin bergabung dengan bisnis Anda"
5. Apa, Mengapa, Bagaimana "Anda perlu mengetahui detail penting kandidat Anda. Jangan hanya mengetahui  apa yang pernah ia lakukan, tetapi juga cari tahu mengapa dan bagaimana mereka melakukannya. "Bagaimana" sangat penting jika Anda ingin memahami  alasan dan motivasi mereka. "
6. Apa sisi serunya? "Saat Anda mempekerjakan seseorang, jangan lupa untuk memberitahu apa keseruan yang akan mereka dapatkan jika bergabung bersama Anda. Jawab pertanyaan ini:  Apa untungnya bagi saya?Jika seseorang akan menginvestasikan waktu, tenaga dan uang ke sebuah institusi/ perusahaan, mereka perlu tahu potensi institusi/perusahaan tersebut."


Mau nanya-nanya dengan info yang lebih lengkap? Boleh deh mampir ke www.myfunbizz.com/asriepra 

Disitu udah lengkap kontaknya.

Wednesday, October 5, 2016

Social Media Darling

Bete hari ini dipersembahkan oleh gajet yang tewas, bikin males ngapa-ngapain, termasuk males ke kantor. Jadilah mendarat di pojokan favorit di cafe bawah radio tempat biasa siaran. Makan, dan kerja. Ngerjain bisnis. Bisnis yang jadi juga ngga jelas gegara moody.

Akhirnya ngejorgok disini ngutak ngatik lepi. 

Tapi kemudian, banyak banget yang ngampirin (eleh.. banyak..... kek beken aje...)
Secara ya, kalo di radio emang siang-siang pasti rame. Kebetulan juga ketemu sama abang penyiar yang punya special program cuma tiap Rabu, bikin jarang ketemu. Jadilah ngobrol sama si abang ini.

Special program-nya ngebawain orang-orang kreatif dan keren di Palembang, dan bintang tamunya hari ini adalah seorang make up artist berlisensi. 
Dipertegas amat mbak, lisensinya.. 
Iya, maklum deh yaa... bahas orang lama yang emang ngedapetin skill-nya selain dari pengalaman, juga ikut training sampe mangkak.

Jadi ceritanya, si MUA ini curcol, berkomentar betapa banyaknya MUA abal-abal seliweran belakangan ini, bermodalkan belajar lewat youtube, dan belanja produk di Instagram dengan harga miring, entah aslik atau KW itu barang.

"Kakak bukannya gimana ya, dek.... Dulu, MUA wajib berlisensi, wajib ikut segala macem training, harus lewat uji kemahiran, baru bisa menyandang MUA. Sekarang kok kesannya dilempar-lempar gitu aja, cuma modal kuas sama gajet"

Okey, kakak. Kalau saya mau jawab enteng, itulah kekuatan dunia maya, social media. Dimana everybody can be a social media darling, cuma diujung jari, ketak ketik sering nampang, buat sensasi, yang penting percaya diri.

Jadi? Ya salahkan dunia digital sekarang ini lah... yang menghilangkan batas antara dunia nyata dengan dunia maya. Dimana positif bisa jadi negatif, dan sebaliknya.

Para social media darling ini sangat menguasai bidangnya. Ya kalau itu bisa disebut sebagai bidang, yaa... Dengan kemudahan yang diberikan oleh dunia digital ini, dengan sedikit usaha belajar memahami pernak-pernik centilnya social media, voila.... jadi deh seleb-nya socmed.

Tapi,
Ada tapinya lagi nih.... Hal seperti ini, ngga bertahan lama kalau memang cuma mengandalkan media sosial. Karena biar bagaimanapun, dunia ini nyata. Persaingan yang sebenarnya tetap ada di dunia nyata. Dan ketenaran di dunia maya, tanpa balancing dari dunia nyata, akan cepat pudarnya.

Nah, 
Kakak MUA berlisensi ngga seharusnya bete berkepanjangan dengan kenyataan ini kan? Kalau ternyata ngga seberapa lama ketahanan tenarnya, dibandingkan dengan mereka yang sudah melewati semak belukar berduri untuk mencapai kesuksesannya.

Atau.... bisa juga ikut nampang jadi social media darling :D

Friday, September 16, 2016

Your choice

Sejak memutuskan menjalankan profesi lain sebagai Social Media marketeer, saya jarang banget jadi pemerhati socmed seperti dulu, dimana eksistensi saya nyinyirin orang sok pinter yang ngeksis di socmed. Eh, bukan cuma orang biasa ya... kadang selebriti juga suka sok pinter, yang kemudia di-bully se-follower anget.

Konsentrasi saya lebih kepada jualan, jualan dan jualan online. Belajar online marketeer, personal branding lebih dalam, public speaking alot dan how to play the role. Sampai capek sendiri. Iya, capek tau maen gadget seharian demi belajar dapet duit dari gadget dan socmed.

Salah sendiri. Yaaaaa.... bener juga. It's my choice to be online learner.

Hari ini, saya udah punya to do list apa yang mau saya kerjain, dan seperti biasa saya juga yang melanggarnya. Dan saya berjalan-jalan ke media sosial yang udah lama banget gak saya toleh-tolehin, Twitter ~ oh God, dulu saya tenar banget wara wiri disono... (suka-suka :p)
Dan saya melihat tweet dari coach kesayangan saya, Didi Mudita.

"Your choice" bisa jadi kekuatan atau kutukan, jadi hati-hati dengan pilihanmu pagi ini. Mau jadi sadis atau manis? Mau dendem atau demen? CHOOSE!

Tuh.

Makanya, kalau jalan itu lurus aja. Make a decision itu pastiin aja. Gimana nanti perjalanannya itu baru 70%nya usaha, 30% kata Allah. Kenapa saya ambil perbandingan sebesar itu? Karena saya ngga mau munafik dengan 99% usaha 1% nasib. 
Pada perjalanannya, pernahkah kamu menghitung berapa kali putus asa? Karena bangkit setelah jatuh itu tidak sebanyak jatuhnya. Tergantung kamunya mau apa ngga bangkit, kalo jatuh sih pasti terus-terusan. Bahkan yang sudah setinggi langit aja masih ada jatuhnya.(kecuali jatuh cinta ya, enak terus-terusan...)

Semua tentang pilihan, mana yang mau kamu pilih. Suka-suka kamu aja, tapi itu bisa merubah hidup kamu 180 derajat. 

Mau apa? JAngan ragu. Berjalanlah sesuai dengan ingin dan pilihanmu. 

Wednesday, September 14, 2016

How deep you love yourself?

Or, how far you love yourself?

Dua kalimat ini berbeda, jelas. Dalam sama jauh. Jarak yang ngga sama, walau dikali jadi volume. Tapi inti dasarnya sih tetep. It's all about you(rself).

Kenapa ya?

Jadi gini... beberapa waktu lalu yang beneran udah lama, dasar saya aja baru sempet postinginnya di blog yang udah buluk jamuran ini saking lamanya gak kepegang, saya ngobrol dengan teman saya yang saya anggap pun guru spiritual saya, karena kebijaksanaannya dan pengetahuannya dalam tanda kutip yang cukup banyak dengan guru spiritual lainnya (ribet? jangan dipikirin, baca aja), Miss A, ketebalan kemampuan seseorang itu tergantung sebesar apakah penerimaan seseorang itu terhadap dirinya sendiri.

Mencintai diri itu ngga mudah, apalagi menerima segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Jangan membantah dengan berkata "Ah, saya ngga gitu"
Kita semua begitu. Termasuk saya.

Saya mengakui didepannya, ketika saya mungkin dihadiahi sang Pencipta dengan kepekaan yang lebih dalam terhadap orang lain, saya sempat berfikir dan berharap tidak mungkin. Mungkin saya aja yang kegeeran atau gimana gitu, tapi saya tidak seistimewa itu.

Miss A bilang "you are what you think you are"
Trus, pindah dulu ke dimensi yang berbeda, ada coach yang juga mengatakan "Vibrasi mempengaruhi bakal jadi apa dirimu"

Gak jauh beda, ya?

Intinya, sebelum kamu berkata tidak, mengertilah bahwa alam semesta tidak bekerja seenaknya walaupun itu bekerja sesuai dengan apa yang kita inginkan. At least, ketika kita berharap sesuatu, berharapnya yang positif. Berbaik sangka dengan-Nya.
Bahwa apa yang dianugerahkan oleh-Nya ada artinya untuk hidup kita.
Bahwa alam semesta akan membantu dalam keadaan apapun selama kita menginginkannya.

That's all.

Membuat saya lebih mempercayai, serapat apapun semak di jalan yang saya lalui, ketika itu ada untuk orang lain, maka saya akan memberikannya dalam keadaan apapun.

Penerimaan seperti ini hanya bisa dirangkul dengan bebas bahagia, jika kita juga membuka diri dengan lapang. Mempercayai diri, mencintai diri, menerima diri mampu melakukan dengan apa yang telah dianugerahkan kepada kita.

Kamu yakin?
Seberapa dalam cintamu pada dirimu?

Monday, May 16, 2016

(aku ingin) Menua (bersamamu)

Kadang kita mengira, jalan kita sudah di track yang tepat. Tapi ternyata tidak.

Ada banyak hal yang masih penuh misterinya walaupun kita sudah hidup cukup lama di dunia ini. Banyak hal yang masih harus dipelajari, walau usia fisik beranjak menua.

Menua.

Kata ini seperti momok bagi orang-orang yang memiliki vitalitas dan aktivitas yang tinggi, sehingga melupakan hukum alam dunia, menua.
Ketika kata-kata itu hadir di hadapan kita secara real, barulah kita menyadari.. bahwasanya alam memiliki caranya sendiri untuk membatasi kekuatan fisik kita. Yang kemudian malah dijadikan alasan-alasan absurd oleh kita.

Seperti.... jatuh cinta pada orang yang lebih tua, perempuannya, dan itu haram. Kata hukum sosial.

Hukum sosial. Hukum yang berlaku di masyarakat. Yang (katanya) berbudaya, (patuh) pada adat istiadat... Yang kemudian malah jadi beban.

Terkadang, menjadi bersama bukanlah hal yang semata karena Allah, bila sudah berbenturan dengan hukum manusia. Disinilah, kepasrahan diminta oleh-Nya.

Manusia suka lupa, bahwa Allah sudah menurunkan hukum-Nya untuk dijalankan dengan persepsi manusia namun tetap pada pakam seharusnya.

Allah menurunkan hamba-Nya berpasang-pasangan, bukan sesuai umurnya. Bahkan Khadijah lebih tua 25 tahun daripada suami tercintanya, Muhammad.
Lalu mengapa manusia mengkotak-kotakkan dan mengharuskan perempuan berusia lebih muda daripada laki-lakinya? Supaya memudahkan memiliki anak?
Jangan lupakan banyak pasangan yang sulit memiliki anak, dari menikah diusia muda hingga menua.

Ketika mencintai seseorang, yang diinginkan hanyalah, menua bersama dalam kasih-Nya. Bukan dipermasalahkan.

Usia hanyalah angka, dunia ini singkat. Tujuan utamanya, tetaplah dalam keridhaan-Nya.
Bisakah aku mendengar... aku ingin menua bersamamu?

Saturday, May 14, 2016

Ijinkan Aku Menyayangimu

Kantuk dan lelah tidak akan bisa membuat tertidur kala hati resah. Terkadang, bukan galau, baper atau mellow yang membuat diri ringkih, tetapi memang rasa hati mempengaruhi tegar raga.

Bila ecap hati dari luka yang terbit dari serpih tajam, pedih berbisa, apalagi yang bisa dilakukan selain merunduk menutup diri seperti putri malu tersentuh?

Kadang nyata lebih mudah disangkal ketika ingin memenangkan pertarungan rasa, ingin bersama, bukan ingin mengangan.

Memilih merindu daripada merintih.
Memilih menipu diri daripada menghadapi saksi.
Memilih memuja puja kosong..

Ijinkan aku menyayangimu,
Jika waktu yang diberi semu..
Walau rasa itu jauh,
Ingin tetap memeluk..

Monday, March 21, 2016

no caption needed

Lama sejak blog terakhir dihadirkan di laman ini. Tanpa ada alasan. Ide sih banyak, tapi sedang tidak mampu untuk mengalirkannya. Kayak pipa ledeng yang berkerak karena lama tidak tersentuh pembersihan, atau malah perlu diganti.

Benda mati saja bisa sakit seperti itu, apalagi benda hidup.

Tinggal bagaimana sensitivitas pemeliharanya untuk menyentuhkan jemarinya dan memberikan tenaga yang positif untuk melembutkan dan menyembuhkannya.

Rasa itu tidak melulu emosional singkat yang tersembur dari kepekaan hati, tapi pun tepukan angin musim semi pada bahumu. Halus, tapi mampu membuatmu berhenti sejenak dan menolehkan kepala untuk melihat, kebaikan apa yang bisa dilakukan untuk menyejukan jiwa.

Saturday, November 14, 2015

Pengen Kayak Kamu..

Role model memang biasa ya. Biasanya seseorang bakalan senang kalau ada seseorang lainnya yang berkata padanya "Aku kepengen kayak kamu.."

Kata-kata itu begitu simpelnya diucapkan.

Kamu keren, ya. Kamu cantik banget. Kamu pinter dandan, ya. Kamu populer deh.

Tapi ngga ada yang tau, mencapai tangga puncak trend setter itu, harus berapa kali kejungkel di setiap anak tangganya. Entah terjegal, atau dijegal.
Berapa ribu bulir air matanya berhamburan melepaskan rasa tertekan yang luar biasa. Hebatnya ketika kebanyakan orang terpuruk masih berpelukan dengan rasa mengasihani diri sendiri, dia yang sekarang diberi tepukan tangan berusaha berdiri di atas puing kegagalannya.

Kebanyakan dari kita mengabaikan bagaimana perjuangan itu berlalu. Beberapa yang mengalami, ikut tergeret-geret menahan rasa sakit untuk mencari penyembuhan.
Bahkan santo atau santa, melewati rasa sakit tanpa menikmati bahagia, di tempat fana ini.
Yes.
Fana.
Sementara.
Jadi, barangkali kamu akan berpikir ulang ketika mengucapkan kata "Pengen kayak kamu.." tapi tidak mau turut merasakan pecahan kerikil menghujami telapak kaki setiap langkahnya, sampai senyum bahagia singgah.

Kalau pengen kayak saya, maukah kamu merasakan sakit yang sama?
Jika tidak bersedia, cukup pujalah saya atas keberhasilan yang saya capai, tanpa harus menjadi seperti saya.

Thursday, May 14, 2015

Basa basi busu(k)

Jam segini, salah seorang kenalan saya mengirimkan pesan singkat. Just say hi, tapi dia khawatir saya jutekin.

"Karena kamu jutek sekali sama saya"

Sebenarnya sih, mungkin sama rata-rata pria, saya sedikit menjaga jarak, yang kemudian diartikan oleh mereka dengan, jutek. Secara bukan cuma kenalan saya yang ini yang bilang begitu. Radar pendeteksi pria ganjen milik saya aja yg kelewat kenceng deteksinya, soalnya sama beberapa kenalan pria lain, saya bisa menanggapi joke-joke yang (mungkin) masuk kategori pelecehan bagi beberapa teman perempuan saya. Jadi mana yang punya niat melenceng walau terbungkus santun pun boleh jadi kena samber jutek saya.

Tanggapan orang bisa beda-beda, ya.

Bagaimana saya tidak jadi jutek?

Tadi pagi, kolega mengirimkan pesan singkat. Minta pin bb. Saya beri dengan alasan pekerjaan. Setelah saling add, basa basi memulai percakapan pun dimulai. Keanehan mulai terasa ketika kolega saya bbm "jangan lupa sholat dan makan siang". Saya jawab dengan ikon senyum demi kesopanan, lho. Eh, jam 4 sore mengulang bbm yg sama. Jam setengah 10 malam bbm lagi, nanya saya lagi ngapain.
Kolega saya laki-laki. Punya anak 3. Pantes gak sih saya jutekin?

Basa basi itu biasa buat orang Indonesia. Tapi sering juga dibungkus aroma dualisme. Coba deh, saya kira kalo kemudian saya jutek, pasti udah paling bener aja sikap yang saya tampilkan gak?

Kesopanan orang Indonesia sudah sangat kontras sekarang. Kalau nanti ditegur, malah balik bilang kita yang kegeeran. Tapi rasa kurang nyaman dengan percakapan seperti itu kenapa tidak dirasakan? Apa sensitivitas sudah dilemahkan?

Perempuan sering dicap penggoda. Kalo ada kasus perselingkuhan, yang dijambak duluan pasti yang perempuan. Yang dicaci maki duluan pasti perempuan. Padahal belum tentu kejadian awalnya seperti itu.

Kalau kita acuh, dianggap tidak menghargai norma yang berlaku di lingkungan tersebut. Pernah juga kejadian sih. Padahal yang ganjen yang laki. Mau kita gampar, dia bos kita. Nah trus gimana?

Melindungi diri dari fitnah adalah hal tersulit yang dilakukan. Menjadi apa adanya dengan resiko hubungan bisa merenggang, barangkali itu satu-satunya pilihan.
Repot.

Saturday, May 2, 2015

Feel free

Kebiasaan menyimpan segala sesuatu dan menahan diri untuk bercerita tampaknya sudah mematikan keinginan saya untuk memberikan banyak komentar yang keluar dari kesepuluh jari-jari tangan saya.
Kebiasaannya jadi menyesap espresso dobel sambil menenangkan diri menahan segala kekesalan yang menyebabkan sekarang merasakan sakit di leher karena stres.

Oh ya. Saya yakin karena stres.

Cobaan menghadapi sejuta problema-gak-penting-tapi-malah-fatal membuat saya uring-uringan. Belum lagi (bisa jadi) kesalahan saya mengintrepretasikan nasihat coach saya mengenai bagaimana mengatasi problema (yang pasti tidak dengan bahasa bahasa sehalus apapun di medsos) menyebabkan saya hanya mengatasinya sendiri.

Dan itu ternyata salah.

We still need someone that really understand what inside us, to talk about.

Saya ngerasa memaksakan diri jadi seseorang yang bahkan bukan diri saya sama sekali. Push my limit too hard. Apalah artinya great attitude kalo malah membuat kita berjalan tidak dengan bayangan kita sendiri.

You don't have to be ashame if you want to cry. Just cry. Lot out loud. Konflik itu akan selalu ada. Dan berhasil mengatasinya membuat kita naik satu level.

Dan saya pun kembali bersandar sama kesayangan, yang sudah saya hindari berbulan-bulan ini. Bukannya bilang hanya dia satu-satunya yang mengerti, tapi sesungguhnya sangat menyenangkan bisa berdebat dengannya, tentang hal yang saya yakini dan yang dia yakini (yang sudah pasti tidak akan membuat saya berhenti mendebat 😄😄)

Monday, June 30, 2014

Tentang Hubungan

Apa sih yang dicari orang dalam sebuah hubungan?

Etdah...bulan puasa malah ngebahas yang begini. Ya jelas ada asal usulnya juga kenapa. Dimulai dari beberapa waktu yang lalu, saya ngetwit komentar saya tentang keramaian jelang pilpres 9 Juli ini. Yang mana pendukungnya pada heboh-heboh semua, yang temenan bisa musuhan, yang pacaran bisa putus, gara-gara beda pilihan. Eh, terus ada temen, mr. A yang mention. Katanya, cek temlen saya yang lagi bahas hubungan.

Hahaha...

Saya lagi ngga bahas hubungan, dimana hubungan saya aja lagi kalah sama kesibukan pilpres. Hih. Ngeselin. Tapi apa boleh buat :(
Hanya aja terusannya, mr. A melanjutkan bahasan via BBM. Yang melaporkan kegagalan perjalanan cintanya. Lagi. :))) *oh...itu toh sebabnya*

Jangan pernah bertanya, mengapa hubungan kita kandas. Kalo dari sudut pandang perempuan, mengapa dia mempertanyakan hubungannya dengan seorang pria, jika menurutnya tidak ada yang bisa diharapkan lebih dari laki-laki tersebut. Perempuan itu maunya jelas. Pacaran, serius, nikah. Udah gitu aja.

Coba kalau dilihat dari sudut pandang laki-laki. Pasti berkilahnya : Saya belum mapan, kerjaan aja masih gini gini aja, gimana mau ngasih makan anak gadis orang?

Komandan aja cerita, waktu dia masih sekolah, ngga mau pacaran. Ngga jelas kapan kerjanya. Tapi dia nembak pacar pertamanya di tahun terakhir dia pendidikan. Setelah setahun berteman. Saya tanya kenapa. Katanya, sudah jelas, selesai pendidikan langsung penugasan. Artinya kerja.
Padahal bisa nembak dari tahun pertama, karena sekolah kedinasan begitu kan udah pasti kerja dan dapet gaji walau masih kadet. Tapi kesayangan bilang, apapun bisa terjadi. Bisa aja pendidikan putus ditengah jalan.

Bener juga....

Makanya laki-laki mikirnya begitu. Dan perempuan maunya pacaran jelas arah tujuannya, menikah.

Jadi, kesimpulan yang bisa saya sampaikan cuma, perbaikin aja diri sendiri (untuk si mr. A). Cari kerja yang bener, seriuslah, trus ketemu perempuan idaman, lamar, gak usah pake pacaran lagi.
Kenapa? Kalau memang serius ingin menikah, menikahlah. Pacaran pas udah nikah aja. Bukannya ikut-ikutan ustadz Felix, tapi bener lho. Pacaran itu boros banget. Mau nelpon perlu pulsa, jalan-jalan pasti ada beli makan minumnya, belom lagi nonton......
Kalo dana sebanyak itu dipake nikah, kan lebih baik.

Nikah ya....
Nikah yang cukup ada wali untuk pengantin perempuannya, saksi dan penghulu untuk membimbing ijab, trus dicatatkan. Acara resepsi segala macem, sesempurna dan sebaiknya aja. Maka, ngga menghabiskan banyak dana. Bener?
Karena reseps itu budaya. Ini yang menakutkan untuk sebagian besar calon pengantin. Belom lagi kehidupan mendatagnya sebagai suami istri, keluarga.

Ya ngga gitu juga, kali.... Rezeki menikah itu ada, beneran. Asal bisa dikelola dengan baik. Tidak boros. Tau prioritas. *pengalaman...hahahaha*

Jadi, yang saya bilang sama mr. A adalah.. kalau sudah niat, yakinkan. Kalau sudah yakin, laksanakan. Orangtua cuma mau anak gadisnya ketemu sama orang yang bertanggung jawab. Karena punya tanggung jawab, lebih artinya dari sekedar mapan terutama secara finansial aja.

Nah, kalau niat udah sedemikian bagus dan indah, masa gak diizinkan dan dikasih jalan sama Allah sih? Hehehehehe....

~ mudah-mudahan jadi pencerahan. Aamiiinnn.~

Apa kabar?

 Jalan-jalan, ketemu kawan  Kemudian saling bertegur sapa  Hai. Apa kabar?  πŸ˜ΆπŸ’­ Apa kabar... Saya sudah berbulan-bulan insomnia parah, wala...