Monday, March 21, 2016
no caption needed
Saturday, November 14, 2015
Pengen Kayak Kamu..
Kata-kata itu begitu simpelnya diucapkan.
Kamu keren, ya. Kamu cantik banget. Kamu pinter dandan, ya. Kamu populer deh.
Tapi ngga ada yang tau, mencapai tangga puncak trend setter itu, harus berapa kali kejungkel di setiap anak tangganya. Entah terjegal, atau dijegal.
Berapa ribu bulir air matanya berhamburan melepaskan rasa tertekan yang luar biasa. Hebatnya ketika kebanyakan orang terpuruk masih berpelukan dengan rasa mengasihani diri sendiri, dia yang sekarang diberi tepukan tangan berusaha berdiri di atas puing kegagalannya.
Kebanyakan dari kita mengabaikan bagaimana perjuangan itu berlalu. Beberapa yang mengalami, ikut tergeret-geret menahan rasa sakit untuk mencari penyembuhan.
Bahkan santo atau santa, melewati rasa sakit tanpa menikmati bahagia, di tempat fana ini.
Yes.
Fana.
Sementara.
Jadi, barangkali kamu akan berpikir ulang ketika mengucapkan kata "Pengen kayak kamu.." tapi tidak mau turut merasakan pecahan kerikil menghujami telapak kaki setiap langkahnya, sampai senyum bahagia singgah.
Kalau pengen kayak saya, maukah kamu merasakan sakit yang sama?
Jika tidak bersedia, cukup pujalah saya atas keberhasilan yang saya capai, tanpa harus menjadi seperti saya.
Thursday, May 14, 2015
Basa basi busu(k)
Jam segini, salah seorang kenalan saya mengirimkan pesan singkat. Just say hi, tapi dia khawatir saya jutekin.
"Karena kamu jutek sekali sama saya"
Sebenarnya sih, mungkin sama rata-rata pria, saya sedikit menjaga jarak, yang kemudian diartikan oleh mereka dengan, jutek. Secara bukan cuma kenalan saya yang ini yang bilang begitu. Radar pendeteksi pria ganjen milik saya aja yg kelewat kenceng deteksinya, soalnya sama beberapa kenalan pria lain, saya bisa menanggapi joke-joke yang (mungkin) masuk kategori pelecehan bagi beberapa teman perempuan saya. Jadi mana yang punya niat melenceng walau terbungkus santun pun boleh jadi kena samber jutek saya.
Tanggapan orang bisa beda-beda, ya.
Bagaimana saya tidak jadi jutek?
Tadi pagi, kolega mengirimkan pesan singkat. Minta pin bb. Saya beri dengan alasan pekerjaan. Setelah saling add, basa basi memulai percakapan pun dimulai. Keanehan mulai terasa ketika kolega saya bbm "jangan lupa sholat dan makan siang". Saya jawab dengan ikon senyum demi kesopanan, lho. Eh, jam 4 sore mengulang bbm yg sama. Jam setengah 10 malam bbm lagi, nanya saya lagi ngapain.
Kolega saya laki-laki. Punya anak 3. Pantes gak sih saya jutekin?
Basa basi itu biasa buat orang Indonesia. Tapi sering juga dibungkus aroma dualisme. Coba deh, saya kira kalo kemudian saya jutek, pasti udah paling bener aja sikap yang saya tampilkan gak?
Kesopanan orang Indonesia sudah sangat kontras sekarang. Kalau nanti ditegur, malah balik bilang kita yang kegeeran. Tapi rasa kurang nyaman dengan percakapan seperti itu kenapa tidak dirasakan? Apa sensitivitas sudah dilemahkan?
Perempuan sering dicap penggoda. Kalo ada kasus perselingkuhan, yang dijambak duluan pasti yang perempuan. Yang dicaci maki duluan pasti perempuan. Padahal belum tentu kejadian awalnya seperti itu.
Kalau kita acuh, dianggap tidak menghargai norma yang berlaku di lingkungan tersebut. Pernah juga kejadian sih. Padahal yang ganjen yang laki. Mau kita gampar, dia bos kita. Nah trus gimana?
Melindungi diri dari fitnah adalah hal tersulit yang dilakukan. Menjadi apa adanya dengan resiko hubungan bisa merenggang, barangkali itu satu-satunya pilihan.
Repot.
Saturday, May 2, 2015
Feel free
Kebiasaan menyimpan segala sesuatu dan menahan diri untuk bercerita tampaknya sudah mematikan keinginan saya untuk memberikan banyak komentar yang keluar dari kesepuluh jari-jari tangan saya.
Kebiasaannya jadi menyesap espresso dobel sambil menenangkan diri menahan segala kekesalan yang menyebabkan sekarang merasakan sakit di leher karena stres.
Oh ya. Saya yakin karena stres.
Cobaan menghadapi sejuta problema-gak-penting-tapi-malah-fatal membuat saya uring-uringan. Belum lagi (bisa jadi) kesalahan saya mengintrepretasikan nasihat coach saya mengenai bagaimana mengatasi problema (yang pasti tidak dengan bahasa bahasa sehalus apapun di medsos) menyebabkan saya hanya mengatasinya sendiri.
Dan itu ternyata salah.
We still need someone that really understand what inside us, to talk about.
Saya ngerasa memaksakan diri jadi seseorang yang bahkan bukan diri saya sama sekali. Push my limit too hard. Apalah artinya great attitude kalo malah membuat kita berjalan tidak dengan bayangan kita sendiri.
You don't have to be ashame if you want to cry. Just cry. Lot out loud. Konflik itu akan selalu ada. Dan berhasil mengatasinya membuat kita naik satu level.
Dan saya pun kembali bersandar sama kesayangan, yang sudah saya hindari berbulan-bulan ini. Bukannya bilang hanya dia satu-satunya yang mengerti, tapi sesungguhnya sangat menyenangkan bisa berdebat dengannya, tentang hal yang saya yakini dan yang dia yakini (yang sudah pasti tidak akan membuat saya berhenti mendebat 😄😄)
Monday, June 30, 2014
Tentang Hubungan
Etdah...bulan puasa malah ngebahas yang begini. Ya jelas ada asal usulnya juga kenapa. Dimulai dari beberapa waktu yang lalu, saya ngetwit komentar saya tentang keramaian jelang pilpres 9 Juli ini. Yang mana pendukungnya pada heboh-heboh semua, yang temenan bisa musuhan, yang pacaran bisa putus, gara-gara beda pilihan. Eh, terus ada temen, mr. A yang mention. Katanya, cek temlen saya yang lagi bahas hubungan.
Hahaha...
Saya lagi ngga bahas hubungan, dimana hubungan saya aja lagi kalah sama kesibukan pilpres. Hih. Ngeselin. Tapi apa boleh buat :(
Hanya aja terusannya, mr. A melanjutkan bahasan via BBM. Yang melaporkan kegagalan perjalanan cintanya. Lagi. :))) *oh...itu toh sebabnya*
Jangan pernah bertanya, mengapa hubungan kita kandas. Kalo dari sudut pandang perempuan, mengapa dia mempertanyakan hubungannya dengan seorang pria, jika menurutnya tidak ada yang bisa diharapkan lebih dari laki-laki tersebut. Perempuan itu maunya jelas. Pacaran, serius, nikah. Udah gitu aja.
Coba kalau dilihat dari sudut pandang laki-laki. Pasti berkilahnya : Saya belum mapan, kerjaan aja masih gini gini aja, gimana mau ngasih makan anak gadis orang?
Komandan aja cerita, waktu dia masih sekolah, ngga mau pacaran. Ngga jelas kapan kerjanya. Tapi dia nembak pacar pertamanya di tahun terakhir dia pendidikan. Setelah setahun berteman. Saya tanya kenapa. Katanya, sudah jelas, selesai pendidikan langsung penugasan. Artinya kerja.
Padahal bisa nembak dari tahun pertama, karena sekolah kedinasan begitu kan udah pasti kerja dan dapet gaji walau masih kadet. Tapi kesayangan bilang, apapun bisa terjadi. Bisa aja pendidikan putus ditengah jalan.
Bener juga....
Makanya laki-laki mikirnya begitu. Dan perempuan maunya pacaran jelas arah tujuannya, menikah.
Jadi, kesimpulan yang bisa saya sampaikan cuma, perbaikin aja diri sendiri (untuk si mr. A). Cari kerja yang bener, seriuslah, trus ketemu perempuan idaman, lamar, gak usah pake pacaran lagi.
Kenapa? Kalau memang serius ingin menikah, menikahlah. Pacaran pas udah nikah aja. Bukannya ikut-ikutan ustadz Felix, tapi bener lho. Pacaran itu boros banget. Mau nelpon perlu pulsa, jalan-jalan pasti ada beli makan minumnya, belom lagi nonton......
Kalo dana sebanyak itu dipake nikah, kan lebih baik.
Nikah ya....
Nikah yang cukup ada wali untuk pengantin perempuannya, saksi dan penghulu untuk membimbing ijab, trus dicatatkan. Acara resepsi segala macem, sesempurna dan sebaiknya aja. Maka, ngga menghabiskan banyak dana. Bener?
Karena reseps itu budaya. Ini yang menakutkan untuk sebagian besar calon pengantin. Belom lagi kehidupan mendatagnya sebagai suami istri, keluarga.
Ya ngga gitu juga, kali.... Rezeki menikah itu ada, beneran. Asal bisa dikelola dengan baik. Tidak boros. Tau prioritas. *pengalaman...hahahaha*
Jadi, yang saya bilang sama mr. A adalah.. kalau sudah niat, yakinkan. Kalau sudah yakin, laksanakan. Orangtua cuma mau anak gadisnya ketemu sama orang yang bertanggung jawab. Karena punya tanggung jawab, lebih artinya dari sekedar mapan terutama secara finansial aja.
Nah, kalau niat udah sedemikian bagus dan indah, masa gak diizinkan dan dikasih jalan sama Allah sih? Hehehehehe....
~ mudah-mudahan jadi pencerahan. Aamiiinnn.~
Sunday, June 29, 2014
(lagi) bahas soal (pendukung) pilpres
Saturday, June 21, 2014
Nilai kepantasan seorang pemimpin
Nah, jelas kan perbedaan keduanya?
Ini bukan sekedar mensejahterakan masyarakat dengan memberantas mafia sembako, tau sederet singkatan khas pemerintahan, takut diculik karena kebablasan ngomong, diberangus haknya untuk menulis atau membuat film dan sebagainya. Saya percaya, dalam sistem demokrasi Indonesia, tidak akan ada hukum yang kembali mundur dan membatalkan apa yg sudah berjalan dengan baik. Kalo ditertibkan, ya beda lagi. Yang pasti seandainya kembali seperti itu, rakyat akan berontak. Semua kan tergantung wakil rakyat, bukan presiden. Karena presiden pelaksana hukum rakyat. Kalo kongkalikong, ya beda lagi urusannya.
Lagian bukan berarti yang katanya (bakal) aman kalo jadi presiden, belum tentu. Yang wajib diawasi itu Tim Penasehat. Kalo whisperer-nya aja gak beres, gak bakalan beres, mau itu presiden alim sekalipun.
Mencerdaskan kehidupan bangsa.
Inget kata-kata itu? Salah satu tujuan negara Indonesia. Dan cerdas, gak cuma akademisnya aja, tapi juga intelektualitasnya. Nah, kalo mengomentari aja sudah kurang cerdas, apalagi menjalaninya?
Tuesday, June 10, 2014
Cinta Sejati
Saturday, April 26, 2014
Be Assertive
Thursday, April 17, 2014
Dunia Bebas Korupsi
Meributkan anti korupsi itu bagus. Sangat baik. Tapi yang jadi masalah, sudah baikkah orang yang berteriak-teriak anti korupsi itu?
Kembali dalam nilai yang dianut untuk kebaikan diri sendiri. Sungguh bukan merupakan hal yang baik, turut serta dalam suatu lingkaran-anti-melakukan-sesuatu-yang-bertentangan-dengan-hati-nurani (ya korupsi itu bertentangan dengan hati nurani kan?)
Saya memperhatikan isu hangat yang sedang terjadi belakangan ini. Pertentangan dua kubu pembela keadilan. Yang notabene memerangi, salah satunya korupsi. Tetapi salah satunya merupakan ladang korupsi salah satu terbesar. Alasan, classified file that threatened open.
Kalau ketangkep, siapa yang susah? Sedih? Kecewa? Merasa tertipu?
Yang jelas, keluarga. Yang ngga disadarin, diri sendiri.
Baik juga kalau mulai sekarang, mencoba untuk memilah baik dan buruk untuk kehidupan kita. Ngga bakalan bisa bebas korupsi seutuhnya, tapi minimal tetep punya timbal balik yang baik.
Zsa Zsa Zsu
Apa kabar?
Jalan-jalan, ketemu kawan Kemudian saling bertegur sapa Hai. Apa kabar? πΆπ Apa kabar... Saya sudah berbulan-bulan insomnia parah, wala...
-
Saya lagi tidur, mendadak telinga yang herannya kelewat sensitif pada saat-saat yang tidak diinginkan ini menangkap bunyi. Blackberry saya ...
-
Cintaku... Aku mencintaimu tanpa syarat Seperti matahari mencintai hari Seperti bulan mencintai malam Seperti angin mencintai awan Seperti l...