Monday, March 21, 2016

no caption needed

Lama sejak blog terakhir dihadirkan di laman ini. Tanpa ada alasan. Ide sih banyak, tapi sedang tidak mampu untuk mengalirkannya. Kayak pipa ledeng yang berkerak karena lama tidak tersentuh pembersihan, atau malah perlu diganti.

Benda mati saja bisa sakit seperti itu, apalagi benda hidup.

Tinggal bagaimana sensitivitas pemeliharanya untuk menyentuhkan jemarinya dan memberikan tenaga yang positif untuk melembutkan dan menyembuhkannya.

Rasa itu tidak melulu emosional singkat yang tersembur dari kepekaan hati, tapi pun tepukan angin musim semi pada bahumu. Halus, tapi mampu membuatmu berhenti sejenak dan menolehkan kepala untuk melihat, kebaikan apa yang bisa dilakukan untuk menyejukan jiwa.

Saturday, November 14, 2015

Pengen Kayak Kamu..

Role model memang biasa ya. Biasanya seseorang bakalan senang kalau ada seseorang lainnya yang berkata padanya "Aku kepengen kayak kamu.."

Kata-kata itu begitu simpelnya diucapkan.

Kamu keren, ya. Kamu cantik banget. Kamu pinter dandan, ya. Kamu populer deh.

Tapi ngga ada yang tau, mencapai tangga puncak trend setter itu, harus berapa kali kejungkel di setiap anak tangganya. Entah terjegal, atau dijegal.
Berapa ribu bulir air matanya berhamburan melepaskan rasa tertekan yang luar biasa. Hebatnya ketika kebanyakan orang terpuruk masih berpelukan dengan rasa mengasihani diri sendiri, dia yang sekarang diberi tepukan tangan berusaha berdiri di atas puing kegagalannya.

Kebanyakan dari kita mengabaikan bagaimana perjuangan itu berlalu. Beberapa yang mengalami, ikut tergeret-geret menahan rasa sakit untuk mencari penyembuhan.
Bahkan santo atau santa, melewati rasa sakit tanpa menikmati bahagia, di tempat fana ini.
Yes.
Fana.
Sementara.
Jadi, barangkali kamu akan berpikir ulang ketika mengucapkan kata "Pengen kayak kamu.." tapi tidak mau turut merasakan pecahan kerikil menghujami telapak kaki setiap langkahnya, sampai senyum bahagia singgah.

Kalau pengen kayak saya, maukah kamu merasakan sakit yang sama?
Jika tidak bersedia, cukup pujalah saya atas keberhasilan yang saya capai, tanpa harus menjadi seperti saya.

Saturday, October 31, 2015

Man.. they know how to pleasure his woman with only by word

Udah lama gak ngeblog... kangen 😁
Sebenernya banyak draft dalam blog saya, cuma aja, saya sering kedistrak pekerjaan yang-penting-gak-penting yang menyebabkan akhirnya saya kelelahan dan kemudian melupakan keasyikan saya.

Kepanjangan judul saya yes?
Gara-gara ini...

Iye.. udah saya short-ir pake fotoRUs. Yg penting-penting aja lah. Kebaca kan? Pria kesayangan saya (masih yg lama), masih tetap seperti dulu. Gak kerasa nih, sebentar lg 2 tahun kebersamaan kami. Walau sempet kepotong 8 bulan putus karena miskomunikasi yg beneran miskomunikasi. Bukan salah paham, tp ke(ternyata)tidakmampuan dia untuk menciptakan komunikasi yg harmonis, menyebabkan saya memutuskan untuk meninggalkan dia. Dan selama 8 bulan itu dia berusaha merubah dirinya menjadi lebih baik, walau sebenarnya masih jauh dari baik.

Ya gimana ngga, dia tetap saja meninggalkan saya tanpa kata-kata. Tuh. 2 minggu jauh dari saya. Itu tanpa komunikasi sama sekali walau WAnya aktif sekali, terkadang sampai malam.

Ketika saya meninggalkan dia, saya tidak mau menjawab apapun dari usahanya memperbaiki komunikasi kami. Sampai suatu ketika dia mengirim pesan lewat WA, dan bertanya "Sebaiknya mencintai itu sepenuh hati atau sepenuh jiwa?" Sekenanya saja saya jawab "Sepenuh hati. Supaya kalau gagal, gak sakit jiwa."

Dan itu membekas untuknya.

Pria saya itu tidak pernah bilang cinta sama perempuan manapun. Bahkan mantannya.

Tapi, kehilangan komunikasi dengan saya, membuat dia merasa harus memperbaiki komunikasi dengan saya, dengan mengucapkan "cinta".

Kesannya gampangan?

Ngga.

Justru karena sulit bilang cinta, nunjukin perhatian dan apapun yang perempuan sukai, dia berusaha bilang cinta. Yah...sebenernya saya juga yang mendorong....errr...oke, maksa dia ngomong.
Dia menelpon hanya untuk menanyakan pertanyaan gak penting, dan..taulaaahhh perempuan adalah interogrator handal didunia, akibat kekepoan tingkat dewa yang dimilikinya.
Ketika saya mengira dia akan menghentikan percakapan, dia selalu membuat topik baru. Cuma orang bodoh yang gak paham betapa orang itu berusaha mencari cara untuk mengobrol. Ya, saya tudepoin aja.
"Sebenernya ngapain nelpon lagi?"
"Kan katanya mesti memperbaiki komunikasi"
"Komunikasi sama siapa?
"Komunikasi sama Judith".

Nah.

Untuk apa komunikasi itu, dan kenapa, saya kejar terus, memaksanya jujur, dan pengakuan cinta itu pun keluar. Selama 8 bulan usahanya yang walau payah pake banget, saya sangat hargai.

Tapi apakah terus dia berubah? NGGA. 😂😂

Seringkali terulang. Perubahannya adalah, ketika dia luang, dia akan berusaha mengambil hati saya. Seperti dalam cuplikan diatas. Dan hubungan yang cukup lama ini, membuat pemahaman satu sama lain lebih dalam. Pria saya tidak suka mengulang-ulang kata cinta.
"Jangan tanya lagi. Cukup sekali saja"
Tapiiiii.... setelah paham saya benci tidak mengetahui apa-apa tentangnya berhari-hari sampai berminggu-minggu, dia tau saat-saat yg tepat untuk bilang cinta.

"Perempuan wis grasa-grusu. Maunya serba cepat, serba instan. Padahal kalo kesandung trus jatuh kan sakit" katanya suatu waktu.
Selalu saya ingat, karena paham sindirian halus yang disampaikan oleh kesayangan saya itu. 

Terlalu cepat bilang cinta, terlalu gampang jatuh cinta, terlalu cepat memutuskan sesuatu. Itu perempuan. Perempuan sering melupakan nikmatnya perjalanan suka duka, dan hasil dari perjuangan.

Saya setuju. Tapi saya tetep tidak suka menunggui sesuatu yang tidak diketahui apa, bagaimana, kemana, dimana, mengapa. Saya cuma menantikan kata "saya sibuk, undur dulu ya... nanti dihubungi lagi"
Karena ucapan "sudah makan siang/malam" itu klise, dan membuat bergidik.

Kesayangan menyanggupi. Tapi tetap, komunikasi intens gagal 😧

Tapi beliau menggantinya dengan ini

Dia bilang love you too.
Kata yang paling susah keluar walo cuma ketikan doang! Yang biasanya kalo saya pancing setiap menyudahi obrolan jarang kami itu, cuma dijawab dengan hehehe.

Tapi jangan senang dulu. Karena kesayangan tau, paham pake banget, kalau perempuan senang disanjung dengan kata-kata seperti itu. 
Seharusnya, kalau saya tetap memegang prinsip, tidak seharusnya saya senang dia menjawab seperti itu. Karena itu adalah sembah sujudnya minta izin menghilang lagi karena SIBUK. -__-

Man....they know how to pleasure his woman with only by word....

Thursday, May 14, 2015

Basa basi busu(k)

Jam segini, salah seorang kenalan saya mengirimkan pesan singkat. Just say hi, tapi dia khawatir saya jutekin.

"Karena kamu jutek sekali sama saya"

Sebenarnya sih, mungkin sama rata-rata pria, saya sedikit menjaga jarak, yang kemudian diartikan oleh mereka dengan, jutek. Secara bukan cuma kenalan saya yang ini yang bilang begitu. Radar pendeteksi pria ganjen milik saya aja yg kelewat kenceng deteksinya, soalnya sama beberapa kenalan pria lain, saya bisa menanggapi joke-joke yang (mungkin) masuk kategori pelecehan bagi beberapa teman perempuan saya. Jadi mana yang punya niat melenceng walau terbungkus santun pun boleh jadi kena samber jutek saya.

Tanggapan orang bisa beda-beda, ya.

Bagaimana saya tidak jadi jutek?

Tadi pagi, kolega mengirimkan pesan singkat. Minta pin bb. Saya beri dengan alasan pekerjaan. Setelah saling add, basa basi memulai percakapan pun dimulai. Keanehan mulai terasa ketika kolega saya bbm "jangan lupa sholat dan makan siang". Saya jawab dengan ikon senyum demi kesopanan, lho. Eh, jam 4 sore mengulang bbm yg sama. Jam setengah 10 malam bbm lagi, nanya saya lagi ngapain.
Kolega saya laki-laki. Punya anak 3. Pantes gak sih saya jutekin?

Basa basi itu biasa buat orang Indonesia. Tapi sering juga dibungkus aroma dualisme. Coba deh, saya kira kalo kemudian saya jutek, pasti udah paling bener aja sikap yang saya tampilkan gak?

Kesopanan orang Indonesia sudah sangat kontras sekarang. Kalau nanti ditegur, malah balik bilang kita yang kegeeran. Tapi rasa kurang nyaman dengan percakapan seperti itu kenapa tidak dirasakan? Apa sensitivitas sudah dilemahkan?

Perempuan sering dicap penggoda. Kalo ada kasus perselingkuhan, yang dijambak duluan pasti yang perempuan. Yang dicaci maki duluan pasti perempuan. Padahal belum tentu kejadian awalnya seperti itu.

Kalau kita acuh, dianggap tidak menghargai norma yang berlaku di lingkungan tersebut. Pernah juga kejadian sih. Padahal yang ganjen yang laki. Mau kita gampar, dia bos kita. Nah trus gimana?

Melindungi diri dari fitnah adalah hal tersulit yang dilakukan. Menjadi apa adanya dengan resiko hubungan bisa merenggang, barangkali itu satu-satunya pilihan.
Repot.

Saturday, May 2, 2015

Feel free

Kebiasaan menyimpan segala sesuatu dan menahan diri untuk bercerita tampaknya sudah mematikan keinginan saya untuk memberikan banyak komentar yang keluar dari kesepuluh jari-jari tangan saya.
Kebiasaannya jadi menyesap espresso dobel sambil menenangkan diri menahan segala kekesalan yang menyebabkan sekarang merasakan sakit di leher karena stres.

Oh ya. Saya yakin karena stres.

Cobaan menghadapi sejuta problema-gak-penting-tapi-malah-fatal membuat saya uring-uringan. Belum lagi (bisa jadi) kesalahan saya mengintrepretasikan nasihat coach saya mengenai bagaimana mengatasi problema (yang pasti tidak dengan bahasa bahasa sehalus apapun di medsos) menyebabkan saya hanya mengatasinya sendiri.

Dan itu ternyata salah.

We still need someone that really understand what inside us, to talk about.

Saya ngerasa memaksakan diri jadi seseorang yang bahkan bukan diri saya sama sekali. Push my limit too hard. Apalah artinya great attitude kalo malah membuat kita berjalan tidak dengan bayangan kita sendiri.

You don't have to be ashame if you want to cry. Just cry. Lot out loud. Konflik itu akan selalu ada. Dan berhasil mengatasinya membuat kita naik satu level.

Dan saya pun kembali bersandar sama kesayangan, yang sudah saya hindari berbulan-bulan ini. Bukannya bilang hanya dia satu-satunya yang mengerti, tapi sesungguhnya sangat menyenangkan bisa berdebat dengannya, tentang hal yang saya yakini dan yang dia yakini (yang sudah pasti tidak akan membuat saya berhenti mendebat 😄😄)

Monday, June 30, 2014

Tentang Hubungan

Apa sih yang dicari orang dalam sebuah hubungan?

Etdah...bulan puasa malah ngebahas yang begini. Ya jelas ada asal usulnya juga kenapa. Dimulai dari beberapa waktu yang lalu, saya ngetwit komentar saya tentang keramaian jelang pilpres 9 Juli ini. Yang mana pendukungnya pada heboh-heboh semua, yang temenan bisa musuhan, yang pacaran bisa putus, gara-gara beda pilihan. Eh, terus ada temen, mr. A yang mention. Katanya, cek temlen saya yang lagi bahas hubungan.

Hahaha...

Saya lagi ngga bahas hubungan, dimana hubungan saya aja lagi kalah sama kesibukan pilpres. Hih. Ngeselin. Tapi apa boleh buat :(
Hanya aja terusannya, mr. A melanjutkan bahasan via BBM. Yang melaporkan kegagalan perjalanan cintanya. Lagi. :))) *oh...itu toh sebabnya*

Jangan pernah bertanya, mengapa hubungan kita kandas. Kalo dari sudut pandang perempuan, mengapa dia mempertanyakan hubungannya dengan seorang pria, jika menurutnya tidak ada yang bisa diharapkan lebih dari laki-laki tersebut. Perempuan itu maunya jelas. Pacaran, serius, nikah. Udah gitu aja.

Coba kalau dilihat dari sudut pandang laki-laki. Pasti berkilahnya : Saya belum mapan, kerjaan aja masih gini gini aja, gimana mau ngasih makan anak gadis orang?

Kesayangan aja cerita, waktu dia masih sekolah, ngga mau pacaran. Ngga jelas kapan kerjanya. Tapi dia nembak pacar pertamanya di tahun terakhir dia pendidikan. Setelah setahun berteman. Saya tanya kenapa. Katanya, sudah jelas, selesai pendidikan langsung penugasan. Artinya kerja.
Padahal bisa nembak dari tahun pertama, karena sekolah kedinasan begitu kan udah pasti kerja dan dapet gaji walau masih kadet. Tapi kesayangan bilang, apapun bisa terjadi. Bisa aja pendidikan putus ditengah jalan.

Bener juga....

Makanya laki-laki mikirnya begitu. Dan perempuan maunya pacaran jelas arah tujuannya, menikah.

Jadi, kesimpulan yang bisa saya sampaikan cuma, perbaikin aja diri sendiri (untuk si mr. A). Cari kerja yang bener, seriuslah, trus ketemu perempuan idaman, lamar, gak usah pake pacaran lagi.
Kenapa? Kalau memang serius ingin menikah, menikahlah. Pacaran pas udah nikah aja. Bukannya ikut-ikutan ustadz Felix, tapi bener lho. Pacaran itu boros banget. Mau nelpon perlu pulsa, jalan-jalan pasti ada beli makan minumnya, belom lagi nonton......
Kalo dana sebanyak itu dipake nikah, kan lebih baik.

Nikah ya....
Nikah yang cukup ada wali untuk pengantin perempuannya, saksi dan penghulu untuk membimbing ijab, trus dicatatkan. Acara resepsi segala macem, sesempurna dan sebaiknya aja. Maka, ngga menghabiskan banyak dana. Bener?
Karena reseps itu budaya. Ini yang menakutkan untuk sebagian besar calon pengantin. Belom lagi kehidupan mendatagnya sebagai suami istri, keluarga.

Ya ngga gitu juga, kali.... Rezeki menikah itu ada, beneran. Asal bisa dikelola dengan baik. Tidak boros. Tau prioritas. *pengalaman...hahahaha*

Jadi, yang saya bilang sama mr. A adalah.. kalau sudah niat, yakinkan. Kalau sudah yakin, laksanakan. Orangtua cuma mau anak gadisnya ketemu sama orang yang bertanggung jawab. Karena punya tanggung jawab, lebih artinya dari sekedar mapan terutama secara finansial aja.

Nah, kalau niat udah sedemikian bagus dan indah, masa gak diizinkan dan dikasih jalan sama Allah sih? Hehehehehe....

~ mudah-mudahan jadi pencerahan. Aamiiinnn.~

 

Sunday, June 29, 2014

(lagi) bahas soal (pendukung) pilpres

........

Sebenernya saya sih males ya, ngebahas hal-hal yang menurut saya low banget. Kurang intelek. Tapi fenomena seperti itu yang sekarang lagi tren. Malah menjadi-jadi memasuki bulan Ramadhan yang seharusnya lebih tenang.

Masih seputar perseteruan antara 2 kubu pendukung capres yang akan berlaga tanggal 9 Juli nanti. 

Berbagai tanggapan muncul dari semua kalangan, cendekia, sampe yang cuma sekedar ikut-ikutan. Yang tergres adalah surat terbuka Tasniem Fauzia, putri Amien Rais. Isi surat itu (menurut saya) menagih janji seorang warga kepada pemimpin daerah. Itu aja. Kalaupun nada dalam surat itu tajam mencela, wajar. Masih dalam taraf kewajaran jika kita tidak puas dengan suatu pelayanan dan menuntut penjelasan.
 
Intermezzo dikit deh. Ayo ngaku, jujur, gak usah pake munafik, sapa yang ngga pernah marah-marah ketika ngedapetin pelayanan yang ngga memuaskan? Mau di restoran, apotik, rumah sakit, pelayanan pemerintahan, dan lain-lain? Siapa?
Dan Tasniem menuntut penjelasan yang sama dari pelayan masyarakat, seorang Gubernur di Daerah Khusus Ibukota. Seorang Jokowi, yang kebetulan mencalonkan diri sebagai Presiden untuk 5 (lima) tahun mendatang.

Tapi reaksi macam apa yang diperoleh?

Sungguh memalukan. Sebagai generasi muda, yang sejak kecil diajarkan untuk santun, disekolahkan agar mengerti intelektualitas, diperkenalkan dengan teknologi..malah melontarkan caci maki dengan bahasa yang benar-benar memalukan untuk didengar ataupun dilihat (karena dalam bentuk tulisan).

Saya teringat lagi komentar Mr. R, supaya tidak reaktif dengan hal-hal seperti itu. Negativisme akan melahirkan hal-hal yang negatif juga. Pengelolaan kata-kata pun penting untuk menenangkan emosi. Boleh saja pendukung Jokowi merasa emosi. Tapi jawaban yang lebih tenang bisa diberikan. Cara pandang kita terhadap apa yang kita dukung menghasilkan perspektif yang bervariasi dalam memberikan komentar.

Menghargai pendapat orang lain itu penting.

Saya ditanya sama kolega, ngajar apa di perguruan tinggi? Saya mengajar Pancasila. Sepele? Iya bagi yang menganggapnya sepele. Bagi saya, penting untuk belajar Pancasila sampai tua, agar mengerti dan paham 5 sila yang ada dalam Pancasila itu bener-bener falsafah hidup bangsa Indonesia, yang intelektual, santun, demokratis dan adil. Sementara, semuanya tidak saya lihat pada para pendukung 2 capres ini...

Prabowo.

Yang tidak mendukung Prabowo, kebanyakan mempermasalahkan ketika reformasi dan peristiwa Trisakti. Dimana Prabowo dituduh sebagai penjahat pelanggar HAM, dengan melakukan penculikan dan pembunuhan tak terdeteksi. Saya juga tumbuh pada masa reformasi itu. Saya mengalami masa-masa demonstrasi karena saat itu saya adalah mahasiswa. Sakitnya diburu dan segala macam kebencian idealis terhadap aparat saya alami. Didepan mata saya, senior saya kritis akibat dipukuli dengan popor senjata ketika berdemo di depan markas militer. Sudah terdesak masih dikejar. Masih kerasa sesak tangis waktu itu. 
Cukup lama saya memandang rendah terhadap aparat, mau ijo atau coklat. Padahal saya cucu pejuang. Tentara. Nasib membawa saya tinggal di eks komplek militer dimana tiap hari saya melihat tentara hilir mudik di depan rumah saya, dan kemudian bekerja di lingkungan dimana salah satu hubungan relasinya dengan aparat.
Kenapa pandangan saya berubah? Karena saya bekerja sebagai pegawai negeri yang juga jelas garis komandonya. Dari atasan, perintah kepada bawahan. Walau tidak seketat aparat, tapi itu yang saya ketahui. Bahwa perintah atasan, sudah melewati uji materi, dan pertimbangan-pertimbangan untuk dilaksanakan, dan segala resiko menjadi tanggung jawab pelaksana.
 
Tidak adil? Mana ada hal yang adil di dunia ini. Mau adil? Jadi atasan. Tapi sekarang lagi ngga ngebahas itu, ya... walau intinya tetap saja sama.

Ya ampun... padahal saya berjanji tidak akan menyebut lantang nama-nama capres hahahaha... biarin ah. Trus nanti yang baca tulisan saya ini menghujat saya. Wkwkkwkwkk. Saya ngga tahan dihujat. Saya temperamental berat :p
Tapi cuma mau mengeluarkan isi kepala saya aja yang udah jengkel liat fanatisme-tidak-pada-tempatnya yang rame ngotor-ngotorin timeline media sosial saya.

Ada bahasan tentang keluarga korban penculikan yang sampe sekarang gak ketauan nasibnya (ya mungkin aja udah ngga ada di dunia lagi ya.... :( ) dan tragedi 98, yang menolak Prabowo jadi presiden. Marah karena ada pendukung yang menyinggung lupakan masa lalu. Masa lalu yang pahit memang ngga mudah untuk dilupakan. 
Saya juga begitu. Tapi trus ada yang bilang sama saya, jika presentase memilih untuk melupakan masa lalu lebih tinggi, apakah kamu mau bertahan atau pergi saja? Pilihan yang berat bukan?
Hak mereka juga untuk tidak memaafkan apa yang sudah mereka alami, tapi bukan berarti harus diekspos sedemikian rupa untuk kepentingan politis. Duka cita mereka hanya milik mereka. Dan pilihan mereka untuk tidak melupakan. Kita tidak berhak mengikut sertakan duka cita mereka untuk menyerang pihak lawan. 

Dan saya juga tau, menjelaskan kepada orang yang tidak mau mendengarkan adalah sia-sia. Makanya orang jadi cenderung memancing emosi untuk menarik perhatian.
Kaum intelek yang benar-benar peduli dengan kemajuan dan perubahan bangsa, akan melakukan lebih daripada cara licik yang tidak bermartabat seperti yang banyak dilakukan sekarang ini.
Tapi, saya suka efeknya. Saya yakin tingkat presentase golput akan jauh menurun karena terpicu emosi dangkal ini :)))

Oh Indonesia... semoga selamat...