Thursday, May 14, 2015

Basa basi busu(k)

Jam segini, salah seorang kenalan saya mengirimkan pesan singkat. Just say hi, tapi dia khawatir saya jutekin.

"Karena kamu jutek sekali sama saya"

Sebenarnya sih, mungkin sama rata-rata pria, saya sedikit menjaga jarak, yang kemudian diartikan oleh mereka dengan, jutek. Secara bukan cuma kenalan saya yang ini yang bilang begitu. Radar pendeteksi pria ganjen milik saya aja yg kelewat kenceng deteksinya, soalnya sama beberapa kenalan pria lain, saya bisa menanggapi joke-joke yang (mungkin) masuk kategori pelecehan bagi beberapa teman perempuan saya. Jadi mana yang punya niat melenceng walau terbungkus santun pun boleh jadi kena samber jutek saya.

Tanggapan orang bisa beda-beda, ya.

Bagaimana saya tidak jadi jutek?

Tadi pagi, kolega mengirimkan pesan singkat. Minta pin bb. Saya beri dengan alasan pekerjaan. Setelah saling add, basa basi memulai percakapan pun dimulai. Keanehan mulai terasa ketika kolega saya bbm "jangan lupa sholat dan makan siang". Saya jawab dengan ikon senyum demi kesopanan, lho. Eh, jam 4 sore mengulang bbm yg sama. Jam setengah 10 malam bbm lagi, nanya saya lagi ngapain.
Kolega saya laki-laki. Punya anak 3. Pantes gak sih saya jutekin?

Basa basi itu biasa buat orang Indonesia. Tapi sering juga dibungkus aroma dualisme. Coba deh, saya kira kalo kemudian saya jutek, pasti udah paling bener aja sikap yang saya tampilkan gak?

Kesopanan orang Indonesia sudah sangat kontras sekarang. Kalau nanti ditegur, malah balik bilang kita yang kegeeran. Tapi rasa kurang nyaman dengan percakapan seperti itu kenapa tidak dirasakan? Apa sensitivitas sudah dilemahkan?

Perempuan sering dicap penggoda. Kalo ada kasus perselingkuhan, yang dijambak duluan pasti yang perempuan. Yang dicaci maki duluan pasti perempuan. Padahal belum tentu kejadian awalnya seperti itu.

Kalau kita acuh, dianggap tidak menghargai norma yang berlaku di lingkungan tersebut. Pernah juga kejadian sih. Padahal yang ganjen yang laki. Mau kita gampar, dia bos kita. Nah trus gimana?

Melindungi diri dari fitnah adalah hal tersulit yang dilakukan. Menjadi apa adanya dengan resiko hubungan bisa merenggang, barangkali itu satu-satunya pilihan.
Repot.

Saturday, May 2, 2015

Feel free

Kebiasaan menyimpan segala sesuatu dan menahan diri untuk bercerita tampaknya sudah mematikan keinginan saya untuk memberikan banyak komentar yang keluar dari kesepuluh jari-jari tangan saya.
Kebiasaannya jadi menyesap espresso dobel sambil menenangkan diri menahan segala kekesalan yang menyebabkan sekarang merasakan sakit di leher karena stres.

Oh ya. Saya yakin karena stres.

Cobaan menghadapi sejuta problema-gak-penting-tapi-malah-fatal membuat saya uring-uringan. Belum lagi (bisa jadi) kesalahan saya mengintrepretasikan nasihat coach saya mengenai bagaimana mengatasi problema (yang pasti tidak dengan bahasa bahasa sehalus apapun di medsos) menyebabkan saya hanya mengatasinya sendiri.

Dan itu ternyata salah.

We still need someone that really understand what inside us, to talk about.

Saya ngerasa memaksakan diri jadi seseorang yang bahkan bukan diri saya sama sekali. Push my limit too hard. Apalah artinya great attitude kalo malah membuat kita berjalan tidak dengan bayangan kita sendiri.

You don't have to be ashame if you want to cry. Just cry. Lot out loud. Konflik itu akan selalu ada. Dan berhasil mengatasinya membuat kita naik satu level.

Dan saya pun kembali bersandar sama kesayangan, yang sudah saya hindari berbulan-bulan ini. Bukannya bilang hanya dia satu-satunya yang mengerti, tapi sesungguhnya sangat menyenangkan bisa berdebat dengannya, tentang hal yang saya yakini dan yang dia yakini (yang sudah pasti tidak akan membuat saya berhenti mendebat 😄😄)

Monday, June 30, 2014

Tentang Hubungan

Apa sih yang dicari orang dalam sebuah hubungan?

Etdah...bulan puasa malah ngebahas yang begini. Ya jelas ada asal usulnya juga kenapa. Dimulai dari beberapa waktu yang lalu, saya ngetwit komentar saya tentang keramaian jelang pilpres 9 Juli ini. Yang mana pendukungnya pada heboh-heboh semua, yang temenan bisa musuhan, yang pacaran bisa putus, gara-gara beda pilihan. Eh, terus ada temen, mr. A yang mention. Katanya, cek temlen saya yang lagi bahas hubungan.

Hahaha...

Saya lagi ngga bahas hubungan, dimana hubungan saya aja lagi kalah sama kesibukan pilpres. Hih. Ngeselin. Tapi apa boleh buat :(
Hanya aja terusannya, mr. A melanjutkan bahasan via BBM. Yang melaporkan kegagalan perjalanan cintanya. Lagi. :))) *oh...itu toh sebabnya*

Jangan pernah bertanya, mengapa hubungan kita kandas. Kalo dari sudut pandang perempuan, mengapa dia mempertanyakan hubungannya dengan seorang pria, jika menurutnya tidak ada yang bisa diharapkan lebih dari laki-laki tersebut. Perempuan itu maunya jelas. Pacaran, serius, nikah. Udah gitu aja.

Coba kalau dilihat dari sudut pandang laki-laki. Pasti berkilahnya : Saya belum mapan, kerjaan aja masih gini gini aja, gimana mau ngasih makan anak gadis orang?

Kesayangan aja cerita, waktu dia masih sekolah, ngga mau pacaran. Ngga jelas kapan kerjanya. Tapi dia nembak pacar pertamanya di tahun terakhir dia pendidikan. Setelah setahun berteman. Saya tanya kenapa. Katanya, sudah jelas, selesai pendidikan langsung penugasan. Artinya kerja.
Padahal bisa nembak dari tahun pertama, karena sekolah kedinasan begitu kan udah pasti kerja dan dapet gaji walau masih kadet. Tapi kesayangan bilang, apapun bisa terjadi. Bisa aja pendidikan putus ditengah jalan.

Bener juga....

Makanya laki-laki mikirnya begitu. Dan perempuan maunya pacaran jelas arah tujuannya, menikah.

Jadi, kesimpulan yang bisa saya sampaikan cuma, perbaikin aja diri sendiri (untuk si mr. A). Cari kerja yang bener, seriuslah, trus ketemu perempuan idaman, lamar, gak usah pake pacaran lagi.
Kenapa? Kalau memang serius ingin menikah, menikahlah. Pacaran pas udah nikah aja. Bukannya ikut-ikutan ustadz Felix, tapi bener lho. Pacaran itu boros banget. Mau nelpon perlu pulsa, jalan-jalan pasti ada beli makan minumnya, belom lagi nonton......
Kalo dana sebanyak itu dipake nikah, kan lebih baik.

Nikah ya....
Nikah yang cukup ada wali untuk pengantin perempuannya, saksi dan penghulu untuk membimbing ijab, trus dicatatkan. Acara resepsi segala macem, sesempurna dan sebaiknya aja. Maka, ngga menghabiskan banyak dana. Bener?
Karena reseps itu budaya. Ini yang menakutkan untuk sebagian besar calon pengantin. Belom lagi kehidupan mendatagnya sebagai suami istri, keluarga.

Ya ngga gitu juga, kali.... Rezeki menikah itu ada, beneran. Asal bisa dikelola dengan baik. Tidak boros. Tau prioritas. *pengalaman...hahahaha*

Jadi, yang saya bilang sama mr. A adalah.. kalau sudah niat, yakinkan. Kalau sudah yakin, laksanakan. Orangtua cuma mau anak gadisnya ketemu sama orang yang bertanggung jawab. Karena punya tanggung jawab, lebih artinya dari sekedar mapan terutama secara finansial aja.

Nah, kalau niat udah sedemikian bagus dan indah, masa gak diizinkan dan dikasih jalan sama Allah sih? Hehehehehe....

~ mudah-mudahan jadi pencerahan. Aamiiinnn.~

 

Sunday, June 29, 2014

(lagi) bahas soal (pendukung) pilpres

........

Sebenernya saya sih males ya, ngebahas hal-hal yang menurut saya low banget. Kurang intelek. Tapi fenomena seperti itu yang sekarang lagi tren. Malah menjadi-jadi memasuki bulan Ramadhan yang seharusnya lebih tenang.

Masih seputar perseteruan antara 2 kubu pendukung capres yang akan berlaga tanggal 9 Juli nanti. 

Berbagai tanggapan muncul dari semua kalangan, cendekia, sampe yang cuma sekedar ikut-ikutan. Yang tergres adalah surat terbuka Tasniem Fauzia, putri Amien Rais. Isi surat itu (menurut saya) menagih janji seorang warga kepada pemimpin daerah. Itu aja. Kalaupun nada dalam surat itu tajam mencela, wajar. Masih dalam taraf kewajaran jika kita tidak puas dengan suatu pelayanan dan menuntut penjelasan.
 
Intermezzo dikit deh. Ayo ngaku, jujur, gak usah pake munafik, sapa yang ngga pernah marah-marah ketika ngedapetin pelayanan yang ngga memuaskan? Mau di restoran, apotik, rumah sakit, pelayanan pemerintahan, dan lain-lain? Siapa?
Dan Tasniem menuntut penjelasan yang sama dari pelayan masyarakat, seorang Gubernur di Daerah Khusus Ibukota. Seorang Jokowi, yang kebetulan mencalonkan diri sebagai Presiden untuk 5 (lima) tahun mendatang.

Tapi reaksi macam apa yang diperoleh?

Sungguh memalukan. Sebagai generasi muda, yang sejak kecil diajarkan untuk santun, disekolahkan agar mengerti intelektualitas, diperkenalkan dengan teknologi..malah melontarkan caci maki dengan bahasa yang benar-benar memalukan untuk didengar ataupun dilihat (karena dalam bentuk tulisan).

Saya teringat lagi komentar Mr. R, supaya tidak reaktif dengan hal-hal seperti itu. Negativisme akan melahirkan hal-hal yang negatif juga. Pengelolaan kata-kata pun penting untuk menenangkan emosi. Boleh saja pendukung Jokowi merasa emosi. Tapi jawaban yang lebih tenang bisa diberikan. Cara pandang kita terhadap apa yang kita dukung menghasilkan perspektif yang bervariasi dalam memberikan komentar.

Menghargai pendapat orang lain itu penting.

Saya ditanya sama kolega, ngajar apa di perguruan tinggi? Saya mengajar Pancasila. Sepele? Iya bagi yang menganggapnya sepele. Bagi saya, penting untuk belajar Pancasila sampai tua, agar mengerti dan paham 5 sila yang ada dalam Pancasila itu bener-bener falsafah hidup bangsa Indonesia, yang intelektual, santun, demokratis dan adil. Sementara, semuanya tidak saya lihat pada para pendukung 2 capres ini...

Prabowo.

Yang tidak mendukung Prabowo, kebanyakan mempermasalahkan ketika reformasi dan peristiwa Trisakti. Dimana Prabowo dituduh sebagai penjahat pelanggar HAM, dengan melakukan penculikan dan pembunuhan tak terdeteksi. Saya juga tumbuh pada masa reformasi itu. Saya mengalami masa-masa demonstrasi karena saat itu saya adalah mahasiswa. Sakitnya diburu dan segala macam kebencian idealis terhadap aparat saya alami. Didepan mata saya, senior saya kritis akibat dipukuli dengan popor senjata ketika berdemo di depan markas militer. Sudah terdesak masih dikejar. Masih kerasa sesak tangis waktu itu. 
Cukup lama saya memandang rendah terhadap aparat, mau ijo atau coklat. Padahal saya cucu pejuang. Tentara. Nasib membawa saya tinggal di eks komplek militer dimana tiap hari saya melihat tentara hilir mudik di depan rumah saya, dan kemudian bekerja di lingkungan dimana salah satu hubungan relasinya dengan aparat.
Kenapa pandangan saya berubah? Karena saya bekerja sebagai pegawai negeri yang juga jelas garis komandonya. Dari atasan, perintah kepada bawahan. Walau tidak seketat aparat, tapi itu yang saya ketahui. Bahwa perintah atasan, sudah melewati uji materi, dan pertimbangan-pertimbangan untuk dilaksanakan, dan segala resiko menjadi tanggung jawab pelaksana.
 
Tidak adil? Mana ada hal yang adil di dunia ini. Mau adil? Jadi atasan. Tapi sekarang lagi ngga ngebahas itu, ya... walau intinya tetap saja sama.

Ya ampun... padahal saya berjanji tidak akan menyebut lantang nama-nama capres hahahaha... biarin ah. Trus nanti yang baca tulisan saya ini menghujat saya. Wkwkkwkwkk. Saya ngga tahan dihujat. Saya temperamental berat :p
Tapi cuma mau mengeluarkan isi kepala saya aja yang udah jengkel liat fanatisme-tidak-pada-tempatnya yang rame ngotor-ngotorin timeline media sosial saya.

Ada bahasan tentang keluarga korban penculikan yang sampe sekarang gak ketauan nasibnya (ya mungkin aja udah ngga ada di dunia lagi ya.... :( ) dan tragedi 98, yang menolak Prabowo jadi presiden. Marah karena ada pendukung yang menyinggung lupakan masa lalu. Masa lalu yang pahit memang ngga mudah untuk dilupakan. 
Saya juga begitu. Tapi trus ada yang bilang sama saya, jika presentase memilih untuk melupakan masa lalu lebih tinggi, apakah kamu mau bertahan atau pergi saja? Pilihan yang berat bukan?
Hak mereka juga untuk tidak memaafkan apa yang sudah mereka alami, tapi bukan berarti harus diekspos sedemikian rupa untuk kepentingan politis. Duka cita mereka hanya milik mereka. Dan pilihan mereka untuk tidak melupakan. Kita tidak berhak mengikut sertakan duka cita mereka untuk menyerang pihak lawan. 

Dan saya juga tau, menjelaskan kepada orang yang tidak mau mendengarkan adalah sia-sia. Makanya orang jadi cenderung memancing emosi untuk menarik perhatian.
Kaum intelek yang benar-benar peduli dengan kemajuan dan perubahan bangsa, akan melakukan lebih daripada cara licik yang tidak bermartabat seperti yang banyak dilakukan sekarang ini.
Tapi, saya suka efeknya. Saya yakin tingkat presentase golput akan jauh menurun karena terpicu emosi dangkal ini :)))

Oh Indonesia... semoga selamat...

Saturday, June 21, 2014

Nilai kepantasan seorang pemimpin

Gaya banget sih, kalo diliat dari titel blog saya kali ini. Tapi beneran, diabaikan atau tidak, kita perlu tau nilai kepantasan jadi seorang pemimpin. Saya banyak melihat fenomena, penghujatan seru pada saat seseorang menjadi pemimpin, kemudian pemujaan tiada normal ketika orang tersebut sudah tidak menjadi pemimpin, tapi pemimpin penggantinya lebih sinting daripada orang itu.

Apakah semua yang dipimpin itu sebodoh itu?

Kayak negara saya yang indah ini. Sepanjang masa kecil saya, saya hanya mengenal 2 orang pemimpin negara. Sukarno dan Suharto. Setidaknya sampai saya mencapai usia jelang dewasa. Kemudian, banyak pemimpin yang sudah menjadi kepala negara. Dan sekarang tibalah untuk memilih pemimpin yang akan memimpin selama 5 tahun kedepan.

Sejak reformasi, kehidupan bernegara di negara ini agak kacau. Kebebasan berpendapat sudah menjadi kabur batasannya. Dan orang tidak menghargai lagi pemimpinnya.
Sampai debat capres beberapa hari yang lalu, terlihat perbedaan mencolok yang kemudian melahirkan kata-kata yang saya yakin banget sudah lama untuk yang bukan pemerhati ketatanegaraan mendengarnya. Negarawan.

Versus Politikus.

Diantara dua pilihan yang mana kubunya sama-sama berdarah panas dan luar biasa, kita sebagai warga negara dituntut pula untuk peka dan jeli melihat jejak bayangan kepemimpinan 5 tahun kedepan yang disajikan tanpa sadar oleh 2 capres-cawapres.

Saya sih cuma mendengar, ngga menyimak banget dengan duduk manis di depan tivi. Gak tahan denger perdebatan antara papa dan mama saya ngomentarin itu -__- Tapi dalam beberapa hal yang disampaikan, saya ngedenger hal-hal yang pernah jadi bahasan antara saya dengan kesayangan, kemudian bahasan itu jadi jawaban cerdas atas pertanyaan konyol yang dipakai untuk menyerang.

Oke. Saya ngga kepingin membahas itu lebih lanjut. Tar jadi polemik. Tapi disitu saya jadi ngeliat perbedaan antara kedua pasang yang mencalonkan diri itu, dan melihat, bahwa satu (mungkin) negarawan, dan yang satu lagi (positif banget) politikus. Walau papa saya lebih suka menyebutnya pesuruh. Karena tipikali sekali disetir.

Apa sih negarawan itu? Dan bedanya dengan politikus?

Mencontek tulisan dari seorang pengamat ketatanegaraan, ada beberapa ciri khas yang menggambarkan negarawan. Yaitu 1) memiliki kemampuan yang sangat cemerlang dan jeli ; lebih merupakan bakat yang terpadu dengan keberanian melawan arus dan bertekad melakukan perubahan dan pembaruan struktural ; 2) berusaha memasuki hal-hal yang total baru, memilih menjadi pelopor atau pionir ; 3) karena hal-hal yang dikemukakan baru, maka konsep yang diajukan mengejutkan dan diragukan oleh mereka yang masih berpikir dengan pola lama ; 4) mampu menawarkan solusi tuntas, reformasi total yang positif dan konstruktif, revolusi yang konstruktif, mampu menawarkan konsep dan aksi menghentikan krisis besar yang melanda satu bangsa dan beberapa bangsa ; 5) mampu menawarkan harapan dan peluang nyata, mampu membangun harga diri yang nyata dan bernilai tinggi ; 6) berani menghadapi resiko bertentangan dengan rezim atau kekuatan yang berkuasa.

Sementara itu, ciri khas politikus adalah 1) kemampuan normal, maksimal mendekati cemerlang, tidak dalam posisi melawan arus, tidak berani mempelopori perubahan dan pembaharuan struktural ; 2) terpaku dalam hal-hal rutin pola lama ; 3) konsep yang dikemukakan adalah hal-hal lama yang sedang berlangsung ; 4) yang ditangani adalah hal-hal biasa, tidak menghasilkan reformasi, tidak revolusioner, dan total tidak menghentikan krisis ; 5) terbatas menawarkan jargon dan retorika tak berguna ; 6) tidak berani menghadapi dan bertentangan dengan rezim yang berkuasa.

Nah, jelas kan perbedaan keduanya?

Ini bukan sekedar mensejahterakan masyarakat dengan memberantas mafia sembako, tau sederet singkatan khas pemerintahan, takut diculik karena kebablasan ngomong, diberangus haknya untuk menulis atau membuat film dan sebagainya. Saya percaya, dalam sistem demokrasi Indonesia, tidak akan ada hukum yang kembali mundur dan membatalkan apa yg sudah berjalan dengan baik. Kalo ditertibkan, ya beda lagi. Yang pasti seandainya kembali seperti itu, rakyat akan berontak. Semua kan tergantung wakil rakyat, bukan presiden. Karena presiden pelaksana hukum rakyat. Kalo kongkalikong, ya beda lagi urusannya.
Lagian bukan berarti yang katanya (bakal) aman kalo jadi presiden, belum tentu. Yang wajib diawasi itu Tim Penasehat. Kalo whisperer-nya aja gak beres, gak bakalan beres, mau itu presiden alim sekalipun.

Mencerdaskan kehidupan bangsa.

Inget kata-kata itu? Salah satu tujuan negara Indonesia. Dan cerdas, gak cuma akademisnya aja, tapi juga intelektualitasnya. Nah, kalo mengomentari aja sudah kurang cerdas, apalagi menjalaninya?

Tuesday, June 10, 2014

Cinta Sejati

Kalo denger kata-kata seperti judul diatas, pasti deh pikiran langsung ke happily ever after ala ala Cinderella, gitu. Ketemu pangeran tampan dan bahagia untuk selamanya.

Gak ada selamanya itu! Hih.

Ah, maaf, agak sensitif... :p
Pokoknya kisah dongeng percintaan akan lewat di dalam benak jika mendengar kata Cinta Sejati. Biasanya yang luluh lantak melting gak keruan ya perempuan. Karena terlahir romantis, dan kebanyakan dicekokin serita dongeng sejak masih kecil. Makanya perempuan disebut cepet dewasa ketimbang pria, ya karena udah diperlihatkan film kartun penuh cinta dari umur belum ngerti apa itu cinta sejati.

Okeks.

Anak gen 90'an tau dooong sama film Cinderella, Snow White, Little Mermaid... Sleeping Beauty? Semua ngajarin bagaimana perempuan bertemu dengan pangerannya. Cinta sejatinya. Trus di film-film itu juga ada penjahatnya. Dari ibu tiri yang kejam, sampe nenek sihir. Tapi kemudian, seiring dengan logika yang meranggas (bahasa gue..... keras amat idupnya ya --, ) orang mulai belajar berfikir dari dua sisi.

Kenapa sih penjahatnya jadi jahat?

Sebenernya juga, pertanyaan ini udah kelontar dari jaman ekek kecil duken (yaolo bahasa gueee.... maap ya...). Cuma, di-cu-ek-in. Nah. Para mama menolak menjawab pertanyaan yang bakalan menghancurkan mimpi anak-anak perempuan. Anak-anak perempuan pemimpi lainnya juga ngga mau mikirin kenapa penjahatnya jadi jahat. Karena jahat ya jahat. Titik.

Barangkali dengan pola perkembangan dan juga asas praduga tak bersalah, karena ini juga menyangkut HAM, sekarang para penulis dongeng mulai memikirkan, kenapa penjahat menjadi jahat? Dan benarkan cinta sejati itu ada antara putri dan pangeran (saja)?

Tonton Maleficent.

Yang ngaku anak gen 90'an, tau banget siapa Maleficent itu. Apalagi kalo udah nonton versi jadulnya Sleeping Beauty-nya raja kartun Walt Disney. Itu tontonan gw sejak jaman masih pake popok. Sampe sekarang. Dari demen ceritanya, lagunya sampe Pangeran Phillipnya yang sungguh beraksen linggis itu....
Tapi, Maleficent, yang diperankan Angelina Jolie (kembaran saya.... :*) sungguh menghadirkan sisi lain villain yang romantis. Dikhianati oleh Stefan, yang mengaku cinta sejatinya, memberi ciuman khayalan, yang kemudian menjualnya demi tahta dan putri raja. Pengkhianatan Stefan yang memotong sayap Maleficent untuk dipersembahkan kepada raja yag sekarat agar dia diangkat menjadi raja, membekukan hati Maleficent yang tadinya penuh kasih dan percaya akan cinta sejati. Yang mendorongnya mengutuk Aurora, putri Stefan, yang akan mati pada usia 16 tahun sebelum matahari terbenam, karena tertusuk jarum pemintal.

Disini serunya melihat seorang peri yang terluka. Sama aja dengan perempuan yang patah hati, dan mengutuk hidup pria yang (pernah) dicintainya, untuk menderita. Perempuan mana yang gak pernah ngutuk mantan, hayo???
Biar kata Stefan nyembah-nyembah, Maleficent gak peduli. Mati aja lo! Anak lo sekalian! (dan kemudian gw bersyukur ini bukan sinetron Indonesia.... dan awas aja kalo ditiru!)
Akibat dari kutukan Maleficent, Stefan memerintahkan untuk menyembunyikan Aurora sampai sehari setelah ulangtahun ke 16nya, dan membakar semua alat pemintal yang ada di negri itu.

Kalo versi kartun, 3 peri baik hati yang membesarkan Aurora jauh didalam hutan supaya gak ketauan Maleficent yang pengen banget liat Aurora mati. Tapi, versi Maleficent beda. 3 peri baik hati yang disuruh ngejaga Aurora sungguh bahlool. Yang ada, ujung-ujungnya yang ngejagain Aurora sampe besar itu malah Maleficent sama gagaknya.

Sisi humanis dan penuh perasaan perempuan dalam diri Maleficent biar kata sekejem alaihim, tetep ada disamping Aurora yang dipanggilnya Beastie (monster. Tapi sama pengucapannya dengan Bestie ya? Sahabat....) sampe Aurora nyebut dia Fairy Godmother. Peri Pelindung.
Kemana-mana dikintilin Aurora, yang tetep aja penuh senyum walo dijudesin, bikin Maleficent luluh. Kaannn.... penjahat juga punya hati... Tapi dia ngga kuasa narik kutukannya. Akibat kemarahan dan dendam, Maleficent ngelempar kutukan ngga nanggung-nanggung, sampe gak ada satu pun kuasa di Bumi yang bisa ngilanginnya. Nyesel deh. Emosi itu memang selalu mengundang penyesalan.

Aurora memang ketemu pangeran Phillip, yang dua-duanya sama-sama terpesona pada pandangan pertama. Akibat ketusuk jarum pemintal, Aurora jatuh tidur. Maleficent sampe nyulik Phillip buat dibawa ke istana, ngebangunin Aurora. Kalo di versi kartun kan Phillip diculik buat diumpetin supaya ngga bisa nyari Aurora yang tidur dan ngebanguninnya. 
Tapi, walaupun Phillip nyium Aurora, Aurora ngga bangun. Beda dengan film kartunnya. Malah Maleficent yang menyesal banget sudah bikin Aurora begitu, trus nyium keningnya, Auroranya malah bangun.

Maleficent bilang, cinta sejati itu ngga ada. Karena dia dikhianati Stefan. Tapi cinta sejati itu pun ngga melulu urusan perasaan antara perempuan dan prianya, tapi kasih sayang yang paling mendasar dari semua jenis kasih sayang dimuka bumi ini, antara ibu dan anak. Ngga mesti sedarah pula.

Gw terharu nonton ini. 

Cinta sejati, terasa pas melukin Bunazeer. Aden ngga mau lagi dipeluk-peluk, katanya udah gede. Tapi tetep aja, impian untuk berpelukan dengan orang yang terkasih dan bergandengan tangan sampe rambut memutih, itupun jadi impian perempuan sampai kapanpun.

Cinta sejati, sejatinya ngga bisa diukur dengan pandangan pertama, atau kasih mahsyuk pria dan perempuannya. Tapi kasih antara dua orang yang benar-benar saling mengasihi sehingga hati saling terpaut satu sama lain. Apakah itu orang tua - anak, kekasih, atau.... sahabat. :)

Monday, June 2, 2014

Selamat Ulang Tahun, Jude (1 Juni)

Kapal selalu membutuhkan pelabuhan untuk membuang sauhnya. Pesawat selalu membutuhkan landasan tempat ia kembali mendarat. 
Segala sesuatu membutuhkan tempat untuk pulang.

Saya menghabiskan malam ulang tahun saya dengan menonton serius film Pearl Harbour. Saya ngga pernah suka nonton film perang. Walau berbalut romansa seperti film yang saya tonton ini. Hanya aja, sejak memiliki hubungan dengan kesayangan yang notabene seorang patriot, mau tidak mau saya ingin tahu lebih dalam dunianya. Apa yang dicintainya sehingga menginginkan pasangan yang memahami jelas tanpa mengeluh dan tanpa merengek.

Nenek saya pernah berkata, tidak gampang jadi istri seorang tentara. Kokak yang seorang pejuang kemerdekaan, berusaha dengan keras bahkan bisa berbulan-bulan tidak mengabari, tidak tahu masih hidup atau mati. Seorang istri tentara harus siap dengan segala konsekuensi yang dihadapi, apalagi jika suami dalam tugas discovery. Seorang istri tentara harus siap, ketika sang suami datang dan pergi dalam waktu yang tidak diketahui...

Mungkin mereka yang mendengar akan berkata, itu dulu, waktu masa penjajahan. Tidak. Sampai sekarang.
Tidak mudah menabahkan diri ketika kesayangan diberi tugas untuk kembali menjalani tugas lapangan, karena prestasinya yang baik. Tidak mudah menelan kecewa dan tangis, ketika kesayangan meminta untuk bersabar. Tidak mudah meneguhkan hati ketika kesayangan tidak memberi kabar berhari-hari.

Romansa yang banyak saya lihat menyimak film-film perang yang dulu saya hindari, membuat saya menyadari arti komitmen yang kesayangan minta dari saya, yang bahkan membuatnya menyuruh saya untuk mencari orang lain yang lebih pasti bersisian mendampingi langkah kaki saya.
Tidak mudah mendampingi seorang patriot. Walau sekarang ini bukan masa perang seperti keadaan yang saya lihat di film-film itu, tapi perang tetap ada dalam mata waspada salah seorang anggota pelindung keamanan negara.

Janji tidak gampang diucapkan seorang pria yang bersumpah setia negara kesatuan republik Indonesia harga mati. Jika itu terucap dari mulutnya, tidak adil buat saya jika tidak mempercayainya.
Yang bisa saya lakukan adalah menantinya berlabuh kepada saya, ketika ia membutuhkan bahan bakar untuk mengisi tangki perjuangannya, dan amunisi untuk mengisi senapan semangatnya.

Sekarang saya mengerti, arti saya bagi dirinya. Saat ulangtahun saya mengucapkan mohon, agar dijodohkan dengannya....
Dan berharap, tidak terlalu dini untuk membisikkan terima kasih atas "kado" yang sudah dikirimkan untuk saya....